Jumat, 22 Oktober 2010

Hari yang Melelahkan


Eka Nur Ardiansyah
NIM 10206241044
 



Hari yang Melelahkan
Kisah ini berawal pada hari Rabu tanggal 29 September 2010, siang selepas pulang kuliah. Ketika itu saya sedang berbaring di kamar kost melepas rasa lelah dan rasa panas, dengan segelas teh hangat menambah rasa nyaman, tiba-tiba telpon genggam yang berada di samping kasur tempat aku berbaring menyuarakan nada nyaring yang menandakan itu ada pesan singkat (SMS). Ternyata pesan itu dari kakak saya yang juga sedang mencari ilmu di kota pelajar ini. Rupanya pesan itu berisikan ajakan ke Solo untuk mengambil barang-barang kost milik temanya yang memang sudah ada izin dari sang pemilik, karena teman kakak saya yang kuliah di Solo sudah hampir selesai dan sedang mengerjakan skripsi, daripada barang-barang kost miliknya di tinggal di kost dan tidak terpakai, lebih baik diberikan kepada kakak saya.
            Entah ini budaya atau kebiasaan yang harus dihilangkan dari bangsa Indonesia, waktu selalu diulur-ulur ibarat sebuah karet. Kakak saya yang katanya akan menjemput saya pukul 15.00 WIB malah sampai pukul 18.00 WIB belum juga terlihat batang hidungnya. Detik dengan saudaranya yaitu menit terus berjalan menggelilingi porosnya, hingga terdengar adzan sholat isya pun belum datang juga. Selang beberapa menit kakak saya datang ke kost saya dengan mengendarai sebuah mobil entah milik siapa, yang jelas itu bukan mobil curian.
            Ba’da isya kami bergegas pergi ke Solo, di tengah perjalanan hujan lebat datang dengan tidak memberikan salam terlebih dahulu, dan itu mengakibatkan gangguan pada jarak pandang kita, meskipun kami didalam sebuah kendaraan roda empat. Sesampainya di Solo terdengar suara sumbang, saya pun merasa tidak asing dengan suara tersebut. Suara itu berpusat pada perut saya, yang menandakan perut saya itu kosong belum terisi nasi, maka dari itu kakak saya mengambil jalan sedikit meminggir ke arah kiri dan mematikan mesin mobil untuk selanjutnya kita mencari makanan.
            Selepas makan, kami bergegas menuju kost teman kakak saya. Ternyata teman kakak saya tidak berada di kost, lalu kakak saya mengambil telpon genggamnya untu menghubungi temanya yang entah berada dimana. Lagi-lagi hal yang paling menyebalkan ditujukan kepada kami, yaitu kegiatan menunggu. Hampir satu jam kami menunggu, akhirnya teman kakak saya datang juga. Barang-barangpun kami masukkan ke dalam mobil, setelah barang-barang masuk, kakak saya menyalakan mobilnya, namun hal yang tidak kami harapkan menghampiri, mobil yang tadi kami naiki tidak bisa menyala, dengan sangat terpaksa kami tidur di kost teman kakak saya. Padahal besoknya saya ada jam kuliah pagi.
            Pagi menjelang, kakak saya mencoba memperbaiki mobil. Akhirnya mesin bisa dinyalakan. Kami pun bergegas menuju Jogja. Mobil melaju kencang,  traffick light kami lewati, lampu merah tak peduli, jalan terus. Di depan ada POLANTAS, wajahnya begitu buas, tangkap kami, tawar menawar harga pas, tancap gas (kata seorang musisi Indonesia seperti itu, namun memang kejadianya seperti itu).
            Sesampainya di Jogja matahari sudah berada di atas, yang artinya waktu itu sudah tidak menunjukan waktu pagi, melainkan sudah siang. Kuliah pagipun telah terlewati, kini tinggal menunggu jam kuliah sore hari.
            Sayapun segera bersiap-siap melakukan kuliah sore, buku sudah saya masukkan ke dalam tas, kepala sudah saya tutup dengan helm, sepeda motor siap mengantar ku untuk pergi kuliah.
            Sampai di kampus ternyata dosen sudah berdiri di depan kelas, kursipun sudah terisi penuh, karena kelas di gabung dengan kelas lain. Dengan sangat terpaksa saya dan beberapa mahasiswa lain duduk di lantai demi mengikuti mata kuliah tersebut. Namun di dalam kelas dosen hanya memberikan sedikit materi dan memberikan tugas, lalu siswa di suruh pulang. Semangat saya kuliahpun akhirnya rapuh, nyaris berpikir lebih baik belajar di rumah daripada di kelas hanya seperti itu, tapi tak apa lah, hal itu akan saya jadikan pelajaran, agar kelak nanti setelah saya menjadi guru, saya tidak melakukan hal itu terhadap siswa saya.



                                                                                                                                

5 komentar:

Eka Nur A mengatakan...

padha komen ayo.........

EDI LOVE TREES mengatakan...

kritik dan saran nya tak ada,, hanya bisa mengucakan BAGUSS

Wulan mengatakan...

lucu...

ART mengatakan...

apanya lan?

DTA mengatakan...

lanjutkan